ANAM KOTO SELATAN — Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa di Nagari Anam Koto Selatan hampir mencapai garis akhir. Setelah menjalani kurang lebih empat puluh hari pengabdian, para mahasiswa kini bersiap meninggalkan posko yang selama ini menjadi saksi berbagai cerita kebersamaan, perjuangan, dan pelajaran hidup.
Salah seorang mahasiswa KKN, Ryan H. Nasution, menuliskan refleksinya pada Minggu dini hari (8/3/2026) sekitar pukul 01.48 WIB di Posko KKN 13. Dalam suasana malam yang hening, ia mengenang perjalanan panjang yang terasa begitu cepat berlalu.
Menurutnya, waktu empat puluh hari yang awalnya terasa panjang kini justru seakan berlalu dalam sekejap. Ketika pertama kali datang, para mahasiswa masih saling canggung dan membawa berbagai harapan serta rencana program kerja untuk masyarakat setempat.
Namun seiring waktu, kebersamaan di posko perlahan mengubah hubungan mereka menjadi lebih dekat.
“Di tempat sederhana ini kami belajar banyak hal tentang kehidupan. Kami belajar menghadapi keterbatasan, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan memahami karakter satu sama lain,” tulisnya.
Selama menjalani kegiatan KKN, para mahasiswa menjalani berbagai rutinitas bersama masyarakat. Mulai dari bangun pagi untuk menjalankan program kerja di nagari, menyusuri jalan kampung, hingga berinteraksi langsung dengan warga.
Tak hanya itu, malam-malam di posko juga menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Diskusi panjang, tawa, hingga perdebatan tentang program kerja sering terjadi di tengah rasa lelah dan kerinduan terhadap keluarga di rumah.
Ryan mengakui bahwa tidak semua hari berjalan mudah. Ada saat-saat ketika kelelahan fisik dan perbedaan pendapat mewarnai kehidupan di posko. Namun justru dari situ para mahasiswa belajar arti kebersamaan dan kesabaran.
“Hidup bersama bukan hanya tentang tawa, tetapi juga tentang saling memahami,” ungkapnya.
Bagi para mahasiswa, momen-momen sederhana justru menjadi kenangan yang paling berkesan. Seperti makan bersama dengan menu sederhana, bercanda di tengah listrik yang kadang padam, hingga duduk santai di depan posko sambil berbagi cerita kehidupan.
Kini, menjelang berakhirnya program KKN, para mahasiswa mulai menyadari bahwa kebersamaan tersebut akan segera menjadi kenangan.
Posko yang selama ini menjadi rumah kedua akan kembali sunyi. Tawa yang setiap malam terdengar akan tergantikan oleh cerita yang dibawa masing-masing mahasiswa ke perjalanan hidup berikutnya.
Meski empat puluh hari bukanlah waktu yang panjang, pengalaman selama menjalani KKN telah meninggalkan jejak yang mendalam bagi mereka.
Pengalaman tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan akademik, tetapi juga menjadi pelajaran kehidupan yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Bagi para mahasiswa KKN di Anam Koto Selatan, perjalanan singkat ini mungkin hanya sebuah persinggahan. Namun kenangan yang tercipta diyakini akan tetap tinggal dalam ingatan, bahkan ketika waktu telah membawa mereka melangkah jauh dari posko tempat semua cerita itu bermula.
